Teori Dasar Oli

Teori Dasar Oli di sini untuk memberikan gambaran tentang apa itu oli dan bagaimana oli dibuat.

Klasifikasi:

1. Base Oil

A.  Mineral

Base Oil Group I Solvent Refined Mineral base oil didapat melalui proses sederhana penyulingan minyak mentah berkualitas standar yang merupakan campuran dari beberapa rantai hidrokarbon yang tidak seragam. (Kuning keruh)

Base Oil Group II mulai menggunakan hidrogen untuk menyeragamkan susunan molekul hidrokarbon dan untuk mengurangi pengotor seperti nitrogen, sulfur, oksigen dan logam berat lainnya. (bening agak keruh)

Base Oil Hydrocracking hampir sama dengan Base Oil Group II tapi di sini dibarengi dengan penerapan temperatur dan tekanan yang ekstrim dan penggunaan katalis untuk mengubah molekul aromatik menjadi parafin yang seragam.

Base Oil Group III adalah kelanjutan penyulingan dari base oil hydrocracking dengan meminimalisir kembali nitrogen, sulfur, oksigen, wax dan logam berat lainnya hingga menjadi isoparafin dan sering disebut parafnic base oil. (bening)

Group III adalah mineral base oil terbaik dan sering disebut sebagai semi-synthetic karena ada sedikit penambahan base oil synthetic untuk menguatkan beberapa karakteristik dari mineral base oil tersebut.

B. Synthetic

Base Oil Group IV adalah termasuk dalam synthetic base oil di mana base oil ini didapat dari hasil proses kimia sehingga menghasilkan base oil yg bebas dari sulfur, oksigen, logam-logam berat dan lain-lain. Yang paling terkenal dalam group ini adalah Poly Alpha Olefins (PAO). Jika ditambahkan additive maka akan menghasilkan oli dengan ikatan kimia yang sangat seragam dan penguatan sifat-sifat base oil yang optimal. (bening)

Base Oil Group V adalah base oil tingkat tertinggi di mana sering orang menyebutnya fully synthetic yang sebenarnya hanya base oil ester yang fully synthetic karena semua base oil synthetic selain ester masih memerlukan base oil mineral walaupun hanya sedikit sebagai pelarut additive-nya. Base oil synthetic akan menggumpal jika langsung dicampur dengan additive. Biasanya pula, base oil group V ini tidak digunakan sebagai base oil tapi lebih sebagai additive untuk base oil lainnya. Yang termasuk group V ini antara lain alkylated Naphthalene, ester, poly-alkylene glycol, silicon, polybutane.

2. Additive

Additive dibutuhkan untuk meningkatkan salah satu atau beberapa sifat base oil dan mempartahankan sifat base oil lainnya agar performa dan unjuk kerja base oil dapat sesuai yang dibutuhkan.

A.  Main Additive

Anti foam, fungsi : meminimalisir terjadinya gelembung udara yang timbul akibat kerja piston, sehingga oksidasi dan kontak antar metal secara langsung juga dapat diminimalisir.

Anti Oxidant, fungsi : mencegah reaksi berantai proses oksidasi yang dapat berakibat menebalnya lapisan pelumas secara berlebih dan berpotensi terjadinya sludge (endapan).

Anti Wear, : mencegah panas berlebih yang timbul akibat gesekan antar permukaan metal karena akselerasi dan deselerasi serta beban berat terhadap kinerja mesin.

Corrosion & rush inhibitor, fungsi : mencegah kerusakan permukaan metal dan karat yang mungkin timbul akibat reaksi acid (asam) ataupun oksidasi udara.

Detergent, fungsi : mencegah terjadinya kontaminasi pelumas dari sisa pembakaran dan mempertahankan permukaan metal tetap bersih.

Dispersant, fungsi : menetralisir sisa pembakaran yang bersifat kontaminasi sehingga dapat meminimalisir meningkatnya kekentalan pelumas dan terbentuknya sludge serta oksidasi.

Friction modifier, fungsi : meningkatkan kinerja pelumasan pada permukaan metal yang bergerak sehingga gesekan yang bersifat abrasi dan noise dapat diminimalisir.

Pour point depressants, fungsi : membantu stabilisasi kekentalan pelumas pada temperatur sangat rendah, sehingga pelumas tidak mengental/membeku serta timbulnya wax yang dapat menghambat flow pelumas dapat diminimalisir.

TBN, fungsi : menetralisir sifat asam yang mungkin timbul akibat kinerja pelumasan pada temperatur tinggi ataupun persenyawaan zat pembakar.

B.  Viscosity Index Improver

Berfungsi untuk memperlambat penurunan viskositas akibat naiknya temperatur suhu sebagai dampak kinerja mesin yang optimal, sehingga viskositas pelumas jadi lebih stabil.

C.    Oil Flow Improver

Berfungsi untuk membantu laju alir pelumas menjadi lebih cepat, sehingga kontak antar metal secara langsung dapat diminimalisir, terutama pada saat start awal mesin.

Catatan

  • Setiap oli terdiri dari bahan mineral dan synthetic.
  • SI, mineral > 60% = mineral; synthetic >60% = synthetic. SNI 30%
  • Group I adalah solvent atau pelarut yang biasanya digunakan sebagai pelarut antara base oil dengan additive.
  • Group V biasanya digunakan sebagai additive.
  • Engine oil 80%-85% Base Oil; 15%-20% paket additive.
  • Others Oil 85%-99% Base Oil; 1%-15% paket additive.

Uraian tersebut di atas jelas memperlihatkan bahwa base oil dan additives merupakan suatu paket yang tidak dapat dipisahkan untuk mencapai hasil pelumasan optimal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: